Kenaikan Mutu Guru Diucap Lebih Susah Dibanding Cari Duit

Kenaikan Mutu Guru Diucap Lebih Susah Dibanding Cari Duit

www.chsourcebook.comKenaikan Mutu Guru Diucap Lebih Susah Dibanding Cari Duit. Agus Sartono, Koordinator Pendidikan dan Agama Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), mengatakan peningkatan kualitas guru merupakan salah satu hal yang paling sulit. Ia mengatakan, sebenarnya itu lebih sulit daripada menghasilkan uang.

Dia menunjukkan dalam diskusi online pada hari Selasa: “Kami dapat menghasilkan uang, kami dapat membangun infrastruktur, kami dapat merancang kursus, tetapi kualitas pendidik sangat penting dan itu tidak mudah.

Menurutnya, guru merupakan peserta utama dalam peningkatan mutu pendidikan. Oleh karena itu, kualitas guru yang kurang baik tidak akan banyak berdampak pada hasil belajar siswa.

“Guru harus bisa menginspirasi dan membangun impian siswa. Ia mengatakan dalam roadmap ini, tantangan tersulit adalah bagaimana guru mengembangkan konten pembelajaran.

Guru juga dituntut untuk menyusun bentuk konten pembelajaran. Harapannya, guru tidak hanya mengirimkan bahasa pengajaran kepada siswa saat memberikan pengajaran.

“Isinya bukan PDF lalu dikirim, tapi berbasis animasi. Ditambahkannya, agar saat mengajar matematika, biologi bisa interaktif.

Oleh karena itu, tantangan ini bukanlah untuk mengajar dengan segera, dan guru harus mengatasi pelajaran tersebut untuk membuktikan kualitasnya. Oleh karena itu, mutu pendidikan di Indonesia akan meningkat seiring dengan kualitas guru.

Bahkan kebijakan sertifikasi guru tidak hanya berdampak positif berupa peningkatan kesejahteraan guru. Sasaran utama sertifikasi yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas guru belum tercapai.

Anggota Panitia X DPR RI Teguh Juwarno mengatakan, sebenarnya sertifikasi guru merupakan tahapan yang harus dilalui guru sebelum bisa atau layak disebut sebagai guru profesional.

Oleh karena itu, jika mereka lulus ujian, mereka meyakini bahwa ijazah guru tersebut sesuai dan layak mendapatkan tunjangan profesi, dengan harapan dapat menjaga kualitas diri dan meningkatkan kemampuannya di samping meningkatkan kesejahteraan diri.

Teguh mengatakan dalam diskusi yang diadakan di Kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta, Rabu: “Menteri sepakat untuk meningkatkan tunjangan kesejahteraan guru, tetapi sebagai gantinya, mereka dapat meningkatkan diri untuk meningkatkan kemampuan (perbaikan).

Meski begitu, yang terjadi adalah tunjangan profesi yang diterima guru dari sertifikasi hanya digunakan untuk menambah tunjangan.

Tegu berkata: “Beberapa orang menggunakannya untuk menikah lagi dan membeli mobil. Tentu kami tidak bisa melarang mereka untuk menggunakannya di dalam mobil, tapi kami berharap para guru dapat meningkatkan kualitas mobil dan menjadi inspirasi.”

Sopan Adrianto, Wakil Direktur Dinas Pendidikan DKI Jakarta, mengatakan hal senada. Padahal, tunjangan terkait sertifikasi tidak berpengaruh pada kinerja.

“Pada uji profisiensi terhadap 32.000 guru, skor 0-5 (pada skala 10 poin) adalah 22.000 pada tahun 2012. Di tahun tersebut, kami melihat bahwa sertifikasi tunjangan ini tidak berdampak signifikan terhadap kinerja,” jelas Sopan DKI Data untuk wilayah Jakarta.

Dia juga mengatakan bahwa guru yang dia temukan juga rendah dalam kemampuan mengajar. Pedagogi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana mendidik anak, bagaimana pendidik menghadapi peserta didik, tugas pendidik dalam mendidik anak, dan tujuan mendidik anak.

Sopin menjelaskan: “Kami menemukan bahwa pedagoginya (guru bersertifikat) di bawah tingkat profesionalnya. Artinya, guru tidak bisa menyampaikan informasi (materi) kepada siswa.”

Ia juga mengklaim dengan sertifikasi ini, para guru tidak akan memikirkan bagaimana meningkatkan tingkat profesional dan kemampuannya, melainkan hanya memikirkan bagaimana meningkatkan sertifikasi. “Semua guru tidak berpikir profesional, tapi mengejar sertifikasi semaksimal mungkin,” kata Polite.

Teguh juga mengungkapkan, ditemukannya tidak adanya korelasi antara kemampuan dan profesionalisme sertifikasi menyebabkan negara mewajibkan dan mengevaluasi kebijakan sertifikasi.

Dia berkata: “Tahun ini, negara telah mengeluarkan sekitar 72 triliun dolar AS. Hanya untuk tunjangan (guru). Sekarang saatnya negara meminta guru untuk bekerja secara profesional.”

Teguh mengatakan: “Pak Anies (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) harus berani menilai ijazah, atau lebih banyak kebijakan harus ditambahkan. Bagaimana guru penerima subsidi bisa bekerja secara profesional?

Kesulitan guru dalam meningkatkan kemampuannya

Pemerintah berharap dapat meningkatkan kualitas dan kemampuan guru dengan memberikan tunjangan profesi, karena sulit bagi guru untuk meningkatkan kemampuannya sendiri.

Mantan dosen Universitas Airlangga yang pernah mengikuti organisasi Cikal Budi S. Muhamad mengatakan, guru tersebut dipecat oleh kepala sekolah karena dianggap terlalu banyak mengikuti pelatihan.

Budi mengatakan: “Di sebuah (sekolah) swasta di Bogor, gurunya dipecat karena dia aktif mengikuti pelatihan, karena kalau ikut pelatihan, dia akan menjadi sangat kritis.”

Baca Juga: 10 Universitas Terbaik di Indonesia 2021

Menurutnya, dalam fenomena tersebut, sekolah sendiri tidak dapat mendukung guru untuk meningkatkan kemampuannya.

Budi mengatakan: “Bagaimana kebijakan tersebut mendukung kepala sekolah sehingga mereka memiliki inisiatif (dukungan).”

Selain itu, menurut Budi, beban mengajar guru 24 jam seminggu juga dinilai menjadi beban berat, yang memberikan kesempatan kepada guru untuk meningkatkan kemampuan dan kualitasnya.

Berbeda dengan waktu mengajar dosen termasuk kewajiban pelatihan.

“Guru mengajar tatap muka 24 jam sehari. Tidak ada waktu yang dialokasikan untuk pengembangan diri. Guru yang mengajar dihormati dan saya telah mengembangkan kemampuan yang tidak dihargai.

Kualitas pelatihan guru dinilai tidak merata. Budi menuturkan, di daerah sendiri, kualitas pelatihan guru banyak yang tidak tinggi.

Budi berkata: “Pelatihan di daerah banyak pelatihan palsu. Sulit mendapatkan seminar berkualitas tinggi.” Tapi situasi ini jelas berbeda dengan kota besar.

Guru adalah tulang punggung pendidikan. Keberhasilan pendidikan suatu negara sangat bergantung pada peran strategis guru. Oleh karena itu, seiring dengan perkembangan zaman, kemampuan guru harus terus ditingkatkan.

Guru memikul tanggung jawab yang sangat berat, tidak hanya kepada siswa, tetapi juga kepada negara. Guru bahkan memainkan peran sentral dalam pencapaian tujuan pendidikan nasional.

Hal yang wajib dimiliki oleh guru.

Dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun Pasal 8 Tahun 2005 mengatur beberapa hal yang harus dimiliki oleh guru dan dosen, yaitu:

Kualifikasi pendidikan, minimal 4 jenjang pendidikan sarjana atau diploma.

Kemampuan akan ditekankan kembali dalam pendidikan profesional guru.

Sertifikat pendidikan yang dikeluarkan setelah sertifikasi guru, yang menyatakan bahwa mereka dapat mencapai tingkat profesional.

Kesehatan fisik dan mental.

Mampu mendukung terwujudnya tujuan pendidikan nasional.

Ada tiga faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas guru. Ketiga faktor tersebut adalah kesalahan dalam metode rekrutmen guru, kemiskinan dalam pendidikan dan pelatihan, dan kurangnya jaminan kerja. Pertama, metode perekrutan guru yang menyesatkan. Sejak pelaksanaan otonomi daerah, rekrutmen guru PNS telah menjadi organisasi daerah. Kebijakan ini dapat berdampak negatif pada penurunan kualitas guru.

Saat ini, pemerintah berada di persimpangan jalan untuk menyelesaikan masalah guru yang termasuk kategori kedua (K2). Rata-rata guru K2 sudah bekerja selama sepuluh tahun, sehingga rentang usia mereka pasti usia lahir rendah. Dilema tersebut bermula karena pemerintah berjanji para guru K2 akan memperhatikan nasib mereka. Bentuk perhatian ini terlihat pada upaya pengurusan kontrak pegawai negeri sipil (PPK) dan pekerjaan lainnya. Di sisi lain, pemerintah mewajibkan PNS Guru baru menggantikan pegawai yang akan memasuki usia pensiun. Dualitas model rekrutmen niscaya akan mempengaruhi kualitas pendidikan.

Kebijakan pemerintah yang memperbolehkan calon guru berasal dari lulusan non-LPTK (lembaga pendidikan dan pendidik) memperburuk keadaan. Dulu, calon guru hanya lulusan STKIP (Lembaga Keguruan dan Ilmu Pendidikan), IKIP (Lembaga Pendidikan dan Keguruan), dan FKIP (Lembaga Pendidikan dan Keguruan). Kini, seluruh warga negara dapat menjadi calon guru selama memenuhi persyaratan administratif. Pemerintah telah melupakan bahwa profesi guru tidak hanya bersifat ilmiah, tetapi juga mendidik.

Kedua, pendidikan kemiskinan dan pelatihan guru. Pemerintah masih jarang mengalokasikan anggaran untuk beasiswa pendidikan dan pelatihan guru. Situasi ini menyebabkan sedikitnya jumlah guru di tingkat pascasarjana. Jika gurunya mau melanjutkan pendidikan, itu hanya bisa datang dari kesadaran pribadinya. Masih sangat sedikit atau bahkan sangat sedikit guru yang memiliki kesadaran seperti ini.

Pemerintah memperburuk situasi ini karena kurangnya kegiatan pelatihan guru. Dalam setahun, guru biasa Indonesia hanya mendapat dua pelatihan. Padahal, pelatihan tersebut masih terbatas pada guru dengan mata pelajaran tertentu. Keadaan ini semakin memprihatinkan karena sekolah dan / atau dinas pendidikan sering kali menunjuk guru tertentu yang sebenarnya sudah lama dilatih. Ini seperti lagu Rhoma Irama: Yang kaya semakin kaya, semakin pintar semakin pintar, semakin bodoh orang yang ditinggalkan. Harus diakui bahwa melanjutkan pendidikan dan pelatihan dapat mengubah cara berpikir para guru.

Ketiga, ketidakpastian karir guru. Ada pepatah mengatakan bahwa air mengalir ke bawah, artinya kualitas air di bawah sangat dipengaruhi oleh kualitas sumber air di atas. Filosofi ini harus digunakan untuk fokus pada profesi guru. Masih banyak guru berprestasi yang tidak memperhatikan profesinya. Penunjukan kepala sekolah, pengawas sekolah, dan pejabat pendidikan biasanya ditandai dengan berbagai kebijakan yang kontraproduktif dengan tujuan pendidikan.

Kondisi di atas menyebabkan kekurangan guru yang berprestasi. Prestasi yang diraihnya hanya berguna untuk yang paling kecil yaitu dirinya dan murid-muridnya. Di sekolah, jika seorang guru yang baik menyampaikan berbagai gagasan kepada teman sebaya atau pemimpinnya pasti akan merasa malu. Tentunya keadaan ini perlu disesali, karena prestasinya harus disebarluaskan ke lingkungan yang lebih luas. Jika guru yang unggul memiliki status atau kewenangan untuk mempengaruhi lingkungan, virus prestasi akan menyebar dengan mudah.

Baca Juga: Pertimbangan untuk Melanjutkan Pendidika ke S2 ataupun S3

Standar kompetensi yang harus dimiliki guru

Sebagaimana disebutkan di atas, guru harus memiliki kemampuan untuk mendukung tugas profesionalnya. Menurut undang-undang, guru harus memiliki 4 jenis kemampuan, yaitu:

  1. kemampuan mengajar

Kemampuan mengajar guru mengacu pada kemampuan atau keterampilan guru yang dapat mengelola proses pembelajaran atau berinteraksi dengan siswa dalam proses belajar mengajar.

Harus menguasai minimal 7 aspek kemampuan mengajar, yaitu:

  1. Karakteristik siswa. Berdasarkan informasi tentang karakteristik siswa, guru harus dapat melakukan penyesuaian untuk membantu setiap siswa belajar. Ciri-ciri yang perlu dilihat antara lain kecerdasan, emosi, masyarakat, moralitas, dan tubuh.
  2. Teori belajar dan prinsip pengajaran belajar. Guru harus mampu menjelaskan teori pembelajaran dengan jelas kepada siswa. Gunakan metode khusus dengan menerapkan strategi, teknik atau metode inovatif.
  3. Pengembangan kurikulum. Guru harus mampu menyusun silabus dan RPP sesuai dengan kebutuhan dan kebutuhan. Pengembangan kurikulum mengacu pada relevansi, efisiensi, efektivitas, kontinuitas, kelengkapan dan fleksibilitas.
  4. Pendidikan dan pembelajaran. Guru tidak hanya memberikan materi pelajaran, tetapi juga membantu. Tema dan sumber daya material harus dioptimalkan untuk mencapai tujuan tersebut.
  5. Kembangkan potensi siswa. Setiap siswa memiliki potensi yang berbeda-beda. Guru harus mampu menganalisis hal tersebut dan menerapkan metode pembelajaran yang tepat agar setiap siswa dapat mewujudkan potensinya.
  6. Bagaimana cara berkomunikasi. Sebagai seorang guru, ia harus mampu berkomunikasi secara efektif dalam proses mengajar. Guru juga harus berkomunikasi dengan sopan dan bersimpati dengan siswa.
  7. Penilaian dan penilaian pembelajaran. Evaluasi meliputi hasil dan proses pembelajaran. Teruskan. Efektivitas pembelajaran juga harus dievaluasi.

 

  1. Kemampuan kepribadian

Kemampuan kepribadian berkaitan dengan kepribadian. Adapun indikator yang mencerminkan karakter positif guru yaitu: sosial, sabar, disiplin, jujur, rendah hati, bermartabat, santun, penyayang, ikhlas, berakhlak mulia, bertingkah laku sesuai dengan norma sosial dan hukum, dll.

Guru harus berkepribadian positif, karena guru harus menjadi panutan bagi siswanya. Selain itu, guru harus mampu mendidik siswa untuk menjaga sikap yang baik

  1. Kompetensi profesional

Kemampuan profesional guru merupakan kemampuan atau keterampilan yang harus dimiliki agar dapat menyelesaikan tugas guru dengan benar.

Keterampilannya berkaitan dengan hal-hal yang sangat teknis dan berhubungan langsung dengan kinerja guru. Indikator kompetensi profesional guru antara lain:

  1. Menguasai topik yang diajarkan, serta struktur, konsep dan metode berpikir ilmiah.
  2. Menguasai mata kuliah standar kemampuan (SK), mata kuliah kemampuan dasar (KD) dan tujuan pembelajaran mata kuliah yang diajarkan.
  3. Mampu mengembangkan topik secara kreatif untuk memberikan siswa pengetahuan yang lebih luas dan lebih dalam.
  4. Mampu merefleksikan dan terus mengembangkan profesionalisme.
  5. Mampu menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses pembelajaran dan pengembangan diri.

Dengan menguasai kemampuan dan keterampilan khusus tersebut di atas, diharapkan fungsi dan tugas guru dapat terlaksana dengan baik.

Oleh karena itu, guru dapat membimbing seluruh siswa untuk memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan

  1. Kompetensi sosial

Kompetensi sosial biasanya berkaitan dengan keterampilan komunikasi, sikap dan interaksi, baik itu dengan siswa, kolega, pendidik, orang tua siswa, atau seluruh masyarakat.

Indikator kompetensi sosial guru meliputi:

  1. Bersikap toleran, obyektif, dan non-diskriminatif, baik terkait kondisi fisik, status sosial, jenis kelamin, ras, latar belakang keluarga, dll.
  2. Mampu berkomunikasi secara efektif dalam bahasa yang sopan dan pengertian.
  3. Mampu berkomunikasi secara lisan dan tulisan.
  4. Mampu beradaptasi dan menjalankan tugasnya sebagai guru di berbagai lingkungan dengan karakteristik sosial budaya yang beragam.

Uji kopetensi guru

Untuk mengukur kemampuan masing-masing guru, negara menyelenggarakan tes kemampuan guru melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kegiatan ini menguji kemampuan mengajar dan kemampuan profesional atau topik.

Hasil UKG akan menunjukkan peta kemampuan penguasaan guru. Peta penguasaan tersebut selanjutnya dapat digunakan oleh pemerintah sebagai bahan pertimbangan saat melaksanakan pembinaan dan rencana pengembangan profesi guru.

Guru yang berhasil lulus UKG dapat memperoleh sertifikat pendidik.

Institusi pendidikan dapat membantu setiap guru yang ada untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas mengajar. Lembaga pendidikan dapat menyelenggarakan pelatihan terstruktur yang diselenggarakan secara mandiri.

Masalah pendanaan tidak akan menjadi masalah karena Pintek siap memberikan solusi. Pintek dapat menyediakan produk pinjaman khusus untuk lembaga pendidikan, dan dapat menyediakan dana untuk penyelenggaraan pelatihan.

Untuk informasi selengkapnya, Anda bisa menghubungi tim Pintek melalui kontak yang tertera di website.

Demi memenuhi standar nasional pendidikan, terus dorong guru-guru di Indonesia. Guru yang berkualitas juga dapat menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Hal ini tidak bisa sepenuhnya menjadi beban guru, dan masing-masing pihak harus mampu melaksanakan tugasnya secara merata.