Pendidikan di Masa Pandemi

www.chsourcebook.comPendidikan di Masa Pandemi. Selama pandemi ini, sektor pendidikan sangat terpengaruh dan sekolah tatap muka tidak diizinkan karena kita harus membantu memutus epidemi rantai virus covid19, jadi kita tidak boleh menghubungi generasi berikutnya di negara ini. Selama pandemi, pendidikan harus menghadapi banyak tantangan, diantaranya

  1. Peran guru

Guru dituntut untuk berpikir inovatif dalam memberikan pembelajaran online, agar tidak membiarkan anak menerima pembelajaran dengan membosankan Melalui dialog interaktif antara guru dan anak, bagaimana tingkat pemahaman anak terhadap bahan ajar online? Pengetahuan anak-anak tentang materi itu bagus.

  1. Peran anak

Anak-anak dituntut untuk selalu online dan menyelesaikan sepenuhnya tugas-tugas yang diberikan dalam pembelajaran. Anak-anak harus belajar virtual, dan dialog interaktif antara guru dan anak tidak semudah tatap muka. Pemahaman anak terhadap materi yang diberikan tentunya berbeda-beda, karena ketidakpedulian proses pembelajaran membuat banyak orang kurang memahami. Apakah ada orang tua atau orang lain yang bisa membantu. Selain itu, fasilitas anak pun berbeda-beda, seperti jenis ponsel, jenis laptop, provider yang digunakan, dan jumlah kuota mereka.

  1. Peran orang tua

Anak-anak khususnya anak SD sangat membutuhkan orang tua untuk pembelajaran online. Orang tua dituntut untuk bisa menjelaskan penjelasan guru dan membantu anak menyelesaikan pekerjaan rumah. Peran lain yang sangat penting dari orang tua adalah menyediakan fasilitas seperti handphone, laptop, internet, kuota, dan materi PR. Hal ini menciptakan celah, karena pada saat pandemi ini banyak terjadi PHK, upah dipotong karena pandemi, dan pendapatan UMKM turun. Boleh saja sediakan fasilitas pendidikan, pokoknya susah makan. Oleh karena itu, ketika anak-anak gagal mengikuti ajaran-ajaran ini, itu akan menyebabkan putus asa dan putus sekolah.

  1. Peran pemerintah.

Peran pemerintah sangat penting dalam memberikan pendidikan yang berkualitas kepada anak bangsa, karena pendidikan merupakan kunci keberhasilan sumber daya manusia negara. Ke depan, kita bisa maju.

Peran pemerintah disini adalah bagaimana memberikan handphone atau laptop kepada anak-anak yang orang tuanya kurang beruntung, bagaimana memberikan kuota bagi siswa sekolah, dan menyediakan kebutuhan pokok sehari-hari bagi keluarga kurang mampu akibat pengangguran, pemutusan hubungan kerja, penjahat, dan UMKM Lebih banyak dana mengalami penurunan, dan nelayan saat ini merasa sedih karena harga ikan turun dan hasil tangkapan turun.

Dalam penyediaan dana tersebut, pemerintah harus selektif agar dapat menggunakan dana tersebut secara tepat sasaran dan efektif hingga benar-benar membutuhkannya.

Selain itu, pemerintah berperan dalam memberikan pelatihan kepada tenaga pengajar yang ada dan merekrut tenaga pengajar yang berkualitas. Pemerintah juga perlu menyediakan fasilitas bagi para pendidik untuk belajar tentang media, sehingga meskipun terjadi pandemi, hal itu akan menciptakan pendidikan yang berkualitas dan akan menciptakan generasi penerus bangsa.

Selama pandemi ini, Kemenkeu juga akan menambah icing on the cake kepada dunia pendidikan Kementerian Keuangan melakukan kegiatan mengajar satu hari di sekolah setiap tahun. Di tahun kelima, kegiatan ini akan mengajarkan peran Kementerian Keuangan dalam menjaga perekonomian nasional, memperkenalkan profesi Kementerian Keuangan yang sudah ada, serta mengajarkan nilai dan semangat yang dibawa oleh Kementerian Keuangan. Kegiatan ini menganut semangat voluntary service, panitia tidak memungut biaya apapun kepada sekolah, dan pegawai yang berpartisipasi di Kementerian Keuangan tidak akan mendapatkan remunerasi atau remunerasi. Biaya yang dikeluarkan dalam melaksanakan kegiatan tersebut tidak ditanggung oleh APBN. Karena masa depan yang lebih baik adalah pahala yang layak bagi Indonesia, maka Indonesia berkomitmen untuk berkontribusi pada kehidupan intelektual negara-negara seperti Kementerian Pendidikan dan Keuangan.

Namun pada saat pandemi ini, kegiatan Kementerian Keuangan 5 berbeda-beda. Kegiatan tersebut dilakukan secara virtual / online. Tidak ada hari mengajar tatap muka. Semua relawan perlu berkreasi untuk menghadirkan suasana mengajar dan komunikasi. Kegiatan belajar online dalam kegiatan ini. Kementerian Keuangan membuka pendaftaran bagi sekolah-sekolah yang ingin bekerjasama dengan Kementerian Keuangan agar para relawan dapat mengajar di sekolahnya, termasuk SMP, SMA, dan sekolah swasta dan negeri sederajat di seluruh Indonesia.

Baca Juga: 20 Negara dengan Pendidikan Terbaik di Dunia

Tantangan yang Dihadapi Guru Selama Covid-19

Guru adalah pilar utama pendidikan, kemampuan mengajar, kemampuan profesional, kemampuan pribadi dan kemampuan sosial sangat penting. Selama pandemi Covid-19, tantangannya adalah memenuhi tugas empat kemampuan ini. Guru harus lebih siap untuk beradaptasi dengan semua kondisi. Guru mempunyai peran ganda, yaitu bertanggung jawab terhadap pendidikan anak didik, sedangkan guru adalah kepala keluarga.

Guru menghadapi berbagai kendala, antara lain kesulitan beradaptasi dengan teknologi pembelajaran online, penurunan motivasi belajar siswa, kurangnya kerjasama orang tua, dan kenaikan biaya kuota. Sekalipun menghadapi masalah, guru tetap perlu mempertahankan tingkat profesionalnya, namun untuk melanjutkan proses pembelajaran dan mencapai tujuan pembelajaran itu sendiri, guru harus terus meningkatkan kemampuannya. Pengaturan seperti ini merupakan tantangan besar bagi para guru.

Alhamdulillah, pemerintah telah memberikan bantuan kuota pembelajaran kepada guru sebagai sarana pengajaran online, meski belum sepenuhnya berakhir sejak pandemi mulai. Setidaknya beban kuota bisa dikurangi. Pemerintah memberikan bantuan subsidi upah (BSU) kepada guru yang berpenghasilan kurang dari 5 juta. Pertanyaan sering muncul: Apakah subsidi dan bantuan ini cukup untuk memenuhi kebutuhan guru untuk kuota internet atau keluarga mereka? Hanya gurunya yang bisa menjawab. Apalagi bagi mereka yang mengajar di sekolah swasta, buruknya status keuangan sekolah swasta menjadi rahasia umum.

Pujian yang setinggi-tingginya harus kita berikan kepada para guru yang tekun mencerdaskan kehidupan negara dalam berbagai kondisi. Guru telah bekerja keras untuk memberikan layanan pendidikan kepada siswa. Faktanya, karena kondisi dan keterbatasan yang ada, beberapa guru “harus” pulang (siswa berkunjung ke rumah) untuk mengajar.

Pemerintah mengumumkan akan memberikan kesempatan kepada sekolah untuk melaksanakan pendidikan sekolah tatap muka dan telah “mempertimbangkan” untuk menyerahkannya kepada pemerintah daerah dan pemerintah daerah untuk lebih memahami situasi lokal. Tentunya dengan tetap menjaga protokol kesehatan yang ketat. Ini mewakili peluang dan tantangan. Pasalnya, jika ditemukan kasus pajanan Covid-19 di sebuah institusi pendidikan, sekolah tersebut harus ditutup dan pembelajaran online harus pulih sepenuhnya.

Negara besar berharap para guru di negeri ini dapat secara profesional memperkuat pendidikan dan pembelajaran dengan berbagai kemampuan ketika mereka perlu melepaskan tekanan keluarga, yaitu dalam kebutuhan dan kesejahteraan. Kalaupun kondisinya sulit, guru diharapkan mampu melakukan berbagai inovasi pembelajaran. Guru, perjuangan kalian tidak ada bandingannya, dan semoga kalian bisa selamat, dan semoga kalian berhasil dan tanpa lelah mendidik anak-anak muda negeri tercinta di Indonesia ini.

Setiap orang harus menjadi guru

Pandemi Covid-19 mengubah cara pendidikan. Awalnya, proses pengajaran dilakukan secara tatap muka. Namun saat ini proses pengajaran dilakukan dari jarak jauh menggunakan jaringan internet dan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Dari segi manfaat, pembelajaran jarak jauh (PJJ) telah membawa proses pendidikan tanah air selangkah lebih dekat ke digitalisasi. Namun di sisi lain, hal itu juga menimbulkan hambatan. Sangat sulit untuk melaksanakan PJJ di daerah yang akses internetnya bermasalah dan minim gadget karena rendahnya tingkat ekonomi masyarakat. Selain itu, proses pengajaran yang membutuhkan praktek langsung juga menemui kendala.

Agus Sartono, Perwakilan Koordinasi Kementerian Pembangunan Manusia dan Koordinasi Kebudayaan (Kemenko PMK) untuk peningkatan kualitas pendidikan dan kesederhanaan agama, menjelaskan untuk mengatasi hal tersebut diperlukan inovasi, terutama guru dan sekolah harus menggunakan inovasi dalam keadaan terbatas.

Hal ini dijelaskan oleh agen Agus, saat memberikan arahan dalam “Sosialisasi melalui terobosan aplikasi TIK sederhana untuk mengatasi kendala PJJ”, ia memberikan arahan melalui aplikasi zoom online, dan ratusan perwakilan sekolah dari berbagai daerah turut berpartisipasi.

“Inisiatif dari sekolah sangat dibutuhkan. Dengan menggunakan tiga metode pendidikan yang disyaratkan Ki Hadjar Dewantara, Niteni, Niroke dan Nambahi adalah konsep 3N yang artinya observasi, peniruan dan penjumlahan. Cara ini bisa dilakukan dimana saja,” terangnya.

Selain itu, ia menegaskan bahwa tujuan pendidikan adalah menjadikan generasi penerus bangsa yang cerdas dan membentuk karakter bangsa yang berwawasan budaya. Oleh karena itu, setiap tantangan harus diatasi dan menjadi tanggung jawab bersama. Argus mengatakan bahwa setiap orang harus menjadi guru yang dapat mendidik anak-anak masa depan di Amerika Serikat.

Dia berkata: “Siapa yang bertanggung jawab? Jawabannya adalah guru. Oleh karena itu, biarlah kita semua menjadi guru. Tidak hanya dosen atau guru di sekolah, kita semua harus menjadi guru.”

Saat itu, Imam Prasodjo, sosiolog Universitas Indonesia, sependapat dengan penjelasan Agus Sartono. Dikatakannya, pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab guru, tapi juga tanggung jawab seluruh aspek masyarakat. Menurutnya, pandemi ini memiliki kearifan untuk mengembangkan olahraga, sehingga setiap orang bisa menjadi guru anak, sehingga meski ada berbagai kendala, proses pendidikan tidak akan berhenti.

Menurut Imam, untuk melakukan hal tersebut perlu dilakukan pemetaan dari aspek-aspek seperti orang tua, saudara, saudara kandung dan aspek keluarga lainnya, serta pihak luar yang terlibat di dalam anak didik, sehingga dapat memilih siapa yang dapat ikut serta dalam mengajar. orang terbaik untuk membimbing anak-anak. Praktek KKN dengan mengajar di daerah lalu lintas terbatas.

Oleh karena itu, menggambar menjadi sangat penting. Jika kata terpelajar atau juara bisa digerakkan, maka menciptakan desa bisa menyelamatkan anak-anak kita. Kami hanya dapat mengatakan bahwa guru tidak memiliki koneksi internet, tetapi dia memiliki mitra di bidang siswa dan bahkan kakak dan orang tua yang lebih bertanggung jawab.

Untuk mengatasi kendala teknis tersebut, tim Yayasan Hati Nurani Dunia mengembangkan inovasi penggunaan TIK sederhana yang telah diimplementasikan di SMP N 3 Tegalwaru dan SMK N 1 Tegalwaru Purwakarta. Departemen Koordinasi PMK bekerjasama dengan ITB dan pegiat pendidikan UNPAD mengawal inovasi TIK sederhana ini.

Inovasi tersebut melalui penggunaan peralatan sederhana untuk media pengajaran guru, seperti penggunaan televisi. Dengan terhubung ke ponsel atau laptop, anak-anak yang tidak dapat menggunakan perangkat tersebut dapat belajar dalam kelompok di bawah bimbingan guru dan mengikuti peraturan kesehatan.

Selain itu, World Conscience Foundation juga mendorong para guru untuk menyiapkan konten pembelajaran interaktif agar siswa tidak merasa bosan dan mudah memahami selama proses pembelajaran. Keterlibatan keluarga, hingga siswa juga membutuhkan pembinaan. Inovasi ini bisa dijadikan alternatif proses PJJ dan bisa diterapkan sekolah.

Baca Juga: Alasan Mengapa Pembelajaran Mesin Populer di tahun 2021

Penyesuaian pembelajaran

Berdasarkan pendapat semua pihak dan keinginan masyarakat terhadap pembatasan PJJ dan dampak negatif hambatan pendidikan selama pandemi (pemerintah tidak dapat menentukan kapan akan berakhir), pemerintah mengambil beberapa langkah penyesuaian. Diantaranya telah dikeluarkan 4 keputusan menteri.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Agama telah menyesuaikan pedoman pelaksanaan pembelajaran pada tahun ajaran 2020/2021 dan tahun ajaran 2020/2021 selama pandemi. Aturan tersebut memperbolehkan sekolah di wilayah kuning dan hijau untuk melakukan pembelajaran tatap muka, sekaligus memperhatikan potensi untuk mengarah ke klaster baru.

Unit pendidikan harus dibuka di area kuning di bawah izin kelompok kerja percepatan pemrosesan Covid-19 setempat. Selain itu, kepala sekolah harus mengisi checklist pencegahan Covid-19 dan diverifikasi oleh pokja untuk kelancaran penanganan Covid-19 serta dinas pendidikan provinsi dan kabupaten / kota.

Pembelajaran tatap muka akan dilaksanakan secara bertahap, dan standar persyaratan siswa untuk setiap kelas adalah 30-50%. Untuk SD, SMP, SMA dan SMK standar awal adalah 28-36 siswa untuk 18 siswa per kelas. Untuk sekolah luar biasa (SLB), ada 5-8 siswa per kelas. Untuk PAUD, dari standar awal 15 siswa per kelas menjadi 5 siswa per kelas.

Begitu pula dengan jumlah hari dan jam pembelajaran yang akan dikurangi, dan setiap satuan pembelajaran akan menentukan sistem rotasi kelompok belajar (shift) sesuai situasi dan kebutuhan. Jika di kemudian hari dikemukakan di lembaga pendidikan bahwa situasinya tidak aman atau tingkat risikonya meningkat, maka pemerintah daerah berkewajiban untuk menutup kembali dinas pendidikan.

Pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran tatap muka menjadi tanggung jawab pemerintah daerah yang didukung oleh pemerintah pusat. Dinas Pendidikan, dinas kesehatan provinsi atau kabupaten / kota, dan kepala dinas pendidikan wajib terus berkoordinasi dengan satuan tugas untuk mempercepat pemrosesan Covid-19 guna memantau risiko Covid-19 di daerah tersebut.

Banyak dinas pendidikan di wilayah “Tiga T” kesulitan melaksanakan PJJ karena minimnya kesempatan. Ini mungkin berdampak negatif permanen pada psikologi dan perkembangan anak. Saat ini, 88% dari total wilayah “tiga T” berada di wilayah kuning dan hijau. Melalui penyesuaian SKB ini, satuan pendidikan yang siap dan mau melakukan pembelajaran tatap muka dapat memilih untuk menerapkannya pada tahap regulasi kebersihan yang ketat.

Catatan data dari PDT dan Kementerian Imigrasi Desa menunjukkan masih ada 13.577 desa di Indonesia yang belum memiliki internet. Hampir semua provinsi di Indonesia belum memiliki wilayah yang terjangkau Internet, bahkan di Pulau Jawa masih ada beberapa desa yang belum bisa mengakses Internet.

Satuan pendidikan yang berada di area hijau dan kuning harus melengkapi seluruh daftar perjanjian kesehatan. Sekolah tidak dapat melakukan pembelajaran tatap muka tanpa persetujuan pemerintah daerah atau dinas pendidikan daerah, kepala sekolah, komite sekolah dan orang tua. Jika orang tua tidak setuju, siswa tidak boleh dipaksa untuk terus belajar di rumah.

Berdasarkan peta zonasi risiko Covid-19 per 13 Agustus 2020, terdapat 33 wilayah / kota di wilayah merah, 222 wilayah / kota di wilayah oranye, 177 wilayah / kota di wilayah kuning, dan sisanya 82 wilayah. / kota terletak di area hijau dan area yang tidak terpengaruh.

Bantuan kuota

Kendala PJJ yang banyak dikeluhkan masyarakat antara lain ketersediaan kuota bagi siswa dan guru / instruktur. Untuk mengatasi masalah ini, masyarakat dan anggota Kongres banyak mengemukakan saran, meminta pemerintah mengalokasikan dana untuk mengatasi pembatasan kuota.

Menanggapi usulan tersebut, dalam pertemuan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim dan Panitia Demokrasi Senayan X, pihaknya telah menyetujui dengan momentum dan anggaran sebesar Rp 9 triliun tahun ini. Subsidi kuota akan diberikan kepada guru, mahasiswa, mahasiswa dan dosen secara gratis.

Dalam empat bulan ke depan (September 2020 hingga Desember 2020), Rp 7,2 triliun akan dibagikan untuk memberikan kuota gratis. Rencananya siswa mendapat 35 GB per bulan, guru mendapat 42 GB per bulan, dan mahasiswa serta dosen mendapat 50 GB per bulan. Kuota gratis akan langsung dialokasikan ke nomor ponsel masing-masing mahasiswa, guru, mahasiswa dan dosen.

Pemerintah harus mengambil dua langkah baik, yaitu penyesuaian pembelajaran dan subsidi kredit / kuota. Bagaimana mencapai hal ini, semua pihak dapat memantau untuk memastikan tidak ada pelecehan dan pelecehan di tempat kejadian.

Selain itu, penting untuk mempertimbangkan mensubsidi smartphone atau laptop. Karena bagi yang tidak memiliki atau tidak mampu membeli smartphone atau laptop tidak perlu memberikan subsidi kacang / kuota.